laki-laki berbalut sutera,
aku menyukai bebanmu jatuh pada dadaku
karena perih hatiku meniada
gumpalan hitam yang tak lagi terasa
dan hanya ada wajahmu dalam duniaku
senandung nafas yang menderu
laki-laki berbalut sutera,
aku menyukai bebanmu jatuh pada dadaku
karena perih hatiku meniada
gumpalan hitam yang tak lagi terasa
dan hanya ada wajahmu dalam duniaku
senandung nafas yang menderu
kukerutkan kulit dahiku dan berpikir
mengapa manusia berulah, berlaku, menari.
kutautkan alis dan mencoba memahami
di mana hati mereka menambat kali ini
dan siapa telah merampok kesadaran hari ini.
mengapa kita berlari?
mengapa kita terjatuh dan berpura-pura gurau?
di mana mereka simpan jerit?
pada siapa mereka meraung?
pernahkah kau berhenti dan ingin menemaniku di sini,
mencoba mengerti,
separuh isi dunia manusia?
aku akan hidup pura-pura
bukan residumu yang menempel di pelupuk mataku
dan bukan kaosmu yang kupakai tidur
malam ini kita tidak perlu menangis
tidak perlu pula berpikir
nyalakan saja laptopmu
kita streaming Leverage supaya bising duniamu
hompimpaalaiyumgambreng!
semua tuhan yang punya
meskipun sampai kini kita belum bahagia
kamu rindu,
porselen bersalut beludru
mabuk aku di bahumu
fajar kecil dalam saku
hanya itu yang ia rindu
sebuah mula
berhentinya kebolehjadian
kebuncahan dipeluk surai mentari
nyata
miliknya
ini lautan
ini punggungmu
ini ombak
ini rambutmu
ini air asin
ini keringat di dahimu yg kujilati
aku pulang.
lelaki separuh robot
jarinya merayu-rayu
puas ia tertawa
tersesat rimba kata-kata
satu perempuan lagi terjebak puisi cinta, katanya